Sejarah Istilah Whistleblower, Si Peniup Peluit

- Kamis, 23 Juni 2022 | 12:24 WIB
Ilustrasi korupsi (OpenClipart-Vectors dari Pixabay)
Ilustrasi korupsi (OpenClipart-Vectors dari Pixabay)

HALLO LIFESTYLE - Istilah whistleblower bermakna "peniup peluit" karena dianalogikan sebagai wasit dalam pertandingan yang meniup pluit untuk mengungkap fakta atas terjadinya pelanggaran.

Mahkamah Agung melalui Surat Edaran MA No. 04 tahun 2011 tentang Perlakuan Bagi Pelapor Tindak Pidana (whistleblower) Di Dalam Perkara Tindak Pidana Tertentu mengartikan whistleblower sebagai Pelapor Tindak Pidana.

Whistleblower adalah pihak yang mengetahui dan melaporkan tindak pidana tertentu dan bukan bagian dari pelaku kejahatan yang dilaporkannya.

Aktivis sipil AS Ralph Nader dianggap orang yang telah menciptakan frasa tersebut pada awal 1970-an untuk menghindari konotasi negatif yang ditemukan dalam kata lain seperti "informan" dan "snitch".

Namun, asal usul kata tersebut bisa ditelusuri sejak abad ke-19.

Frasa whistleblower melekat pada aparat penegak hukum di abad ke-19 karena mereka menggunakan peluit untuk memperingatkan masyarakat atau sesama polisi.

Wasit olahraga, yang menggunakan peluit untuk menunjukkan permainan ilegal atau curang, juga disebut whistleblower.

Baca Juga: Hari Ini Dunia Merayakan World Whistleblowers Day

Sebuah cerita tahun 1883 di Janesville Gazette menyebut seorang polisi yang menggunakan peluitnya untuk memperingatkan warga tentang kerusuhan sebagai whistle blower (dipisah, tanpa tanda hubung).

Pada tahun 1963, frasa tersebut telah menjadi kata yang ditulis dengan tanda penghubung, whistle-blower.

Halaman:

Editor: Adnuri Mohamidi

Tags

Terkini

Idul Adha Beda, Apa Kata MUI?

Kamis, 30 Juni 2022 | 08:00 WIB

BET Awards 2022: Lihat Daftar Pemenang Lengkap!

Senin, 27 Juni 2022 | 21:07 WIB
X